Senin, 31 Oktober 2016

LIGHTS OUT (2016)


LIGHTS OUT ~ Phobia atau Kenyataan??




Lights Out, satu lagi film bergenre Horror Thriller yang menarik untuk ditonton. Dengan durasi 1 jam 21 menit, cukup mampu membuat ketegangan dalam ceritanya. Film yang dirilis tanggal 22 Juli 2016 ini distrudarai oleh David Sanberg dan sebagai penulis scriptnya adalah Sang Sutradara sendiri ditemani Eric Heisserer, didistribusi oleh Warner Bros Pictures. Bertindak sebagai produser adalah nama-nama terkenal yang tidak asing lagi di dunia perhororan, sebut saja James Wan, Eric Heisserer, dan Lawrence Grey. James adalah orang yang menggarap seri film The Conjuring Insidious, dan Saw. Pasti kenal dengan ketiga film tersebut bukan? Dan Eric Heisserer adalah orang yang membuat film Final Destination 5. Film ini ternyata diadaptasi dari peraih penghargaan film pendek tahun 2013 yang dibuat oleh David, berdurasi 3 menit dengan judul sama. Dengan budget minim, film ini mendapat rating cukup bagus dan sudah mampu balik modal di minggu perdananya. Mendapat respon balik yang mencengangkan, rencana sekuel film ini akan diterbitkan. Semoga saja benar, sehingga bertambah lagi deretan film horor selanjutnya yang dinanti.

Film ini menceritakan kisah seorang wanita bernama Rebecca (Teresa Palmer) yang phobia terhadap gelap. Itu karena pada saat kecil dia selalu dihantui oleh sesosok makhluk yang hanya muncul pada saat lampu padam. Dia selalu didatangi dan diserang oleh sosok hantu wanita tersebut tanpa sama sekali tahu penyebabnya. Akhirnya dia pun memutuskan pergi dari rumah, berpikir telah berhasil meninggalkan ketakutannya, namun ternyata masih berlanjut. Bahkan kini adik laki-lakinya Martin (Gabriel Bateman) yang tinggal bersama ibunya mengalami hal serupa. 

Cerita dibuka dengan obrolan Paul (Billy Burke) dengan anaknya Martin yang terdengar ketakutan di telepon. Sebelumnya Ester (Lotta Losten), asisten Paul merasa ada yang aneh dengan keadaan kantor yang remang. Sebelum pulang, mengerjakan sisa pekerjaan terlebih dahulu. Saat ingin mematikan lampu pada sebuah ruangan, melihat sosok makhluk yang berdiri menatapnya. Namun anehnya, saat lampu menyala sosok itu menghilang, saat dimatikan kembali sosok itu muncul. Begitu terus sampai akhirnya sosok itu tiba-tiba mendekat padanya. Esther yang ketakutan pun segera berlari menemui bosnya. Tapi Paul menanggapi ringan, bahkan saat Esther berniat pulang, malah membiarkan dirinya tetap berada di kantor sendirian, berdalih bahwa pekerjaan belum selesai. Pilihan yang dibuat Paul sangat salah, menyebabkannya menjadi target empuk sosok misterius itu dan mati mengenaskan.
























































Pada saat Rebecca sedang terlelap, mendadak lampu tidurnya padam. Dia pun terbangun dan melihat sosok yang duduk di depan kamar...menunduk, seperti sedang melakukan sesuatu. Awalnya dia hanya diam, namun perlahan bergerak menyalakan lampu tidur, lalu sosok itu menghilang. Berniat mencoba mematikan kembali dan...sosok itu terlihat lagi. Tidak puas, masih melakukan hal yang sama, hasil tidak berubah. Yang terakhir sosok itu malah berdiri dan masuk ke kamar menyerangnya. Beruntung lampu sempat dinyalakan sebelum celaka. Setelahnya mendapati nama Diana terukir di lantai, sosok itu yang membuatnya.



















































































Ketakutan Martin semakin menjadi, hingga Rebecca harus turun tangan, tidak ingin adiknya menjadi phobia seperti dirinya. Dengan berat hati, dia bersama Bret (Alexander DiPersia) kembali ke rumah lama untuk bertemu Sophie (Maria Bello) dengan tujuan untuk membawa adiknya menjauh dari rumah dan ibunya. Sophie telah lama memiliki masalah kesehatan mental, itu juga salah satu alasan Rebecca meninggalkan rumah. Sophie terkesan tidak peduli dengan anaknya, berada dalam dunianya sendiri, menganggap Diana sebagai teman baiknya, begitu juga sebaliknya. Walau demikian, karena masih dibawah umur, Martin tidak diperbolehkan tinggal bersama Rebecca, hak asuh lebih diberatkan kepada Sophie sebagai ibu. Tidak bisa melawan, Rebecca pun merelakan.




















Rebecca semakin merasa aneh dengan sosok wanita misterius yang terus menghantui keluarganya. Memutuskan untuk mencari tahu jawabannya. Dalam rumah lama dia menemukan sebuah kotak yang berisi informasi mengenai penyakit yang diderita ibunya. Ada sebuah foto menampilkan gambar dua anak perempuan. Yang satu terlihat biasa, namun satunya terlihat misterius. Dengan itu juga dia tahu bahwa pernah dilakukan sebuah percobaan manusia namun berakhir gagal. Tapi apa hubungan hal itu dan ibunya...dengan keluarganya. Saat mencari tahu, saat berusaha mencoba masuk ke kamarnya, sosok itu mulai menampakkan diri dan menyerangnya dengan brutal. Rebecca sangat ketakutan dan segera pergi.
















Sophie berusaha berubah menjadi lebih baik, berusaha menjadi ibu yang peduli, berusaha untuk ada bersama putra kecilnya. Mereka berdua memutuskan nonton film bersama dengan ditemani camilan menyenangkan. Martin sangat senang, senyum terkembang di wajah, merasa ibunya benar sudah berubah. Namun senyum itu pudar setelah mendengar ibunya berkata bahwa mereka bertiga akan bersenang-senang malam ini. Siapa yang dimaksud dengan orang itu? Apa yang ibunya maksudkan? Martin sendiri pernah memergoki ibunya sedang berbicara sendiri dalam ruangan gelap atau bahkan bicara pada ruangan terbuka dan gelap yang bahkan tidak ada seorang pun di sana. Apakah sosok itu? Sosok misterius yang selalu menghantuinya? Jawaban pun muncul, malam itu juga ibunya memperkenalkan pada sosok yang selama ini berdiam di rumah mereka, yang merupakan teman dekat ibunya. Martin sangat ketakutan dan berlari pergi.



















Puncak cerita adalah ketika Rebecca memutuskan untuk tinggal di rumah lamanya, menemani adik dan ibunya. Bersama Bret dia bermalam di rumah. Sebenarnya Rebecca sudah menyuruh pulang, namun cowok itu berkeras menemani, sebagai pacar yang baik bukankah harus begitu? Tidak ada satu pun  dari mereka yang memiliki firasat akan menghadapi kejadian mengerikan.




















Sebagai anak, tentu saja Rebecca sangat khawatir pada Sophie, memutuskan untuk mendatangi ke kamar dan meminta maaf. Tapi dia merasa aneh saat ibunya terkesan tidak membiarkannya masuk, hanya berdiri di depan pintu. Ibunya pun menerima permintaan maaf dan menjabat tangannya. Walau keadaan kamar gelap, masih bisa terlihat samar oleh Rebecca bahwa ada seseorang yang menarik tubuh ibunya untuk segera masuk kembali. Saat pintu menutup, dia beralih pada tangan yang tadi disentuh, ibunya meninggalkan secarik kertas. Tanpa menunggu segera membuka dan membaca, isinya sangat mengejutkan...ibunya meminta pertolongan. Oke, ini lebih rumit dari yang diperkirakan.

Untuk berjaga-jaga, lilin dinyalakan sebagai pengganti lampu jika tiba-tiba mati, mereka memerlukan cahaya untuk membuat sosok itu tidak mendekat. Dan yang diperkirakan pun terjadi. Saat terlelap, lampu padam, hanya cahaya remang lilin menemani. Rebecca berinisiatif menyalakan kembali, saat menjalankan niatnya itu peristiwa dimulai. Pertama dari temuan yang mengejutkan di dalam gudang, berlanjut serangan tiba-tiba sampai berakhir dirinya dan Martin terkurung di sana. Di sisi lain, Bert yang berniat datang menyelamatkan tak luput dari amukan. Cowok itu cukup babak belur dibuat, dalam keadaan sekarat berhasil melarikan diri dengan mobil.

Tinggallah Rebecca berdua dengan Martin, berjuang mempertahankan hidup, bertahan dengan cahaya terakhir yang di dapat. Mereka harus keluar dari rumah, namun yang terkecil tidak ingin pergi tanpa Sophie, Rebecca berjanji akan mencari ibunya. Sophie marah kepada Diana, selama ini dia diam agar anaknya selamat, tapi tidak tinggal diam jika anaknya diganggu. Saat keadaan genting, tiba-tiba muncul dua polisi, ternyata Bert tidak kabur meninggalkan, malah mencari bantuan. Polisi tersebut tidak percaya dengan cerita Rebecca dan dalam hitungan detik nyawanya sudah habis dibantai, nasib serupa diterima oleh rekan sekerjanya. .





























































Rebecca menyerahkan Martin pada Bert, menyuruh keduanya keluar dari rumah. Dia akan mencari ibunya sesuai janji dan tidak akan meninggalkan untuk kedua kali. Dia harus menyelamatkan ibunya. Kembali dirinya menjadi incaran, perlawanan dilakukan tapi tentu saja Rebecca tidak akan mampu. Saat sudah tidak ada harapan, muncul Sophie dengan melakukan sesuatu pada dirinya sendiri dan menyebabkan sosok itu berlari ke arahnya. Seiring hilangnya nyawa Sophie, sosok itu ikut lenyap juga. Ya, Sophie bunuh diri dengan menembak kepalanya. Cerita berakhir sampai di sini.




















Ending berakhir sedih, walau kakak beradik itu selamat namun tidak dengan ibu mereka. Cerita tidak menjelaskan banyak tentang sosok wanita misterius, bahkan apa hubungannya dengan Sophie tidak diketahui. Hanya kejadian di akhir yang menunjukkan kematian Sophie adalah kematian makhluk itu juga. Apakah teror benar sudah berakhir, tidak jelas, bagaimana keadaan Rebecca dan Martin setelah itu juga tidak jelas. 

Film ini mengambil tema yang ringan dan sederhana, tapi sang sutradara berhasil membawa cerita menjadi alur horor yang menegangkan. Sayang sekali untuk dilewatkan bagi para maniak horor. Bagi yang tidak terlalu takut dengan gelap mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi film ini bisa mempengaruhi psikologi bagi siapa saja yang menonton. Tidak jarang kita menemukan dalam kehidupan sehari-hari. sesuatu yang tiba-tiba melintas dalam kegelapan, saat sudut mata merasakan ada sesuatu. Apakah itu hanya ilusi atau memang kenyataan?

Selamat menonton dan menikmati lebih lanjut!! Semoga berkesan!!








Jumat, 28 Oktober 2016

THE REMAINS (2016)


THE REMAINS ~ Teror Sebuah Rumah Tua




The Remains rilis tanggal 5 Agustus 2016, karya sutradara Thomas Della Bella, script ditulis sendiri oleh sang sutradara. Film berdurasi 1 jam 25 menit ini mengusung genre Horor Thriller, diproduksi oleh Diablo Entertainment (II) dan EBF Production. Menceritakan sebuah keluarga yang baru saja menyelesaikan proses kepindahan rumah baru mereka. Setelah kematian sang istri, John (Todd Iowe) memutuskan untuk pindah dengan tujuan agar dia dan ketiga anaknya memulai kehidupan yang baru dan tidak terus larut dalam kesedihan.


Niat tulus itu ternyata tidak berjalan lancar. Tanpa disadari ternyata rumah baru yang mereka tempati menyimpan misteri kelam dari pemilik sebelumnya, yaitu Madame Addison (Maria Olsen), seorang cenayang. Ada kejadian mengerikan pada saat Madame melakukan ritual kesehariannya seperti biasa, dan menyebabkan sesuatu terus menghantui rumah tersebut.


Semula keadaan berjalan baik-baik saja, bahkan masing-masing anak memilih kamar dengan senang hati. Saat sedang menjelajahi rumah, anak tengah bernama Victoria (Hannah Nordberg) menemukan sebuah rumah boneka yang ditinggalkan begitu saja, hanya ditutupi oleh selembar kain putih. Banyak sisa-sisa boneka dalam rumah mainan itu, tapi kondisinya mengerikan. Sebagian bahkan tidak utuh anggota badannya. Victoria mengambil sebuah boneka berukuran paling besar, berniat menjadikan miliknya. Sejak awal melihat, entah kenapa langsung tertarik, seperti ada sesuatu.

 

















 

Si Sulung Izzy (Brooke Butler) tidak terlalu antusias dengan rumah baru mereka, terkesan cuek dan ogah-ogahan. Hanya sibuk dengan urusan pacarnya yang tinggal jauh dari tempatnya sekarang. Izzy menolak untuk pindah tapi John tidak mengabulkan. Setelah kepergian ibunya, Izzy berubah sikap, tidak pernah menurut, tidak lagi mengurus adik-adiknya. Berbeda dengan Izzy, kedua adiknya malah berusaha untuk mencari kesenangan. Saat keduanya bermain petak umpet, Si Bungsu Aiden (Dash Williams) tidak sengaja membuka sebuah pintu dan menemukan jalan naik menuju ke loteng. Di situlah Aiden dan Victoria menemukan sebuah kotak tua dengan berbagai macam barang antik di dalamnya. Sebuah jam saku emas, kamera jadul, liontin, dan beberapa foto. Masih banyak lagi barang peninggalan lainnya, seakan memang dibiarkan teronggok tanpa perawatan. Memang dalam kontrak disebutkan bahwa rumah beserta isinya menjadi milik penghuni baru tanpa syarat. Semuanya...tanpa terkecuali. John yang mendapat informasi dari kedua anaknya segera memeriksa, mengatakan bahwa mereka tidak boleh bermain dengan semua barang itu sebelum dirinya memastikan lebih dulu dengan Claire (Ashley Crow). 





 


Saat bertemu, John mencoba menanyakan lebih jauh tentang sejarah rumah dan pemilik sebelumnya. Apakah ada sesuatu yang pernah terjadi di rumah itu, menunjukkan barang-barang yang ditemukan di loteng. Namun jawaban Claire diluar perkiraan, wanita itu mengatakan tidak tahu apa-apa. John ragu tapi tidak mempunyai bukti cukup. Sebenarnya Claire tahu tapi memilih untuk bungkam, tidak ingin mengambil resiko. Barang-barang sisa peninggalan itu bukanlah barang biasa, melainkan memiliki kekuatan hitam yang amat jahat yang akan selalu meminta korban kepada mereka yang membuka.

 

Kejadian aneh pun dimulai, berawal dari perabotan di ruang tengah yang tiba-tiba hancur berantakan, bahkan lampu gantung pun sampai lepas dari pelafon. Seperti ada yang membuatnya jadi berantakan tapi tidak ada satu pun anggota keluarga di sana, masing-masing berada dalam kamar. Oke, itu cukup aneh! Izzy mengatakan mungkin rumah mereka berhantu namun John tidak menanggapi.

















 

Semakin banyak peristiwa aneh terjadi dan itu membuat John semakin penasaran dengan rumah baru mereka. Tapi tidak ada yang bisa memberi jawaban kepadanya. Saat membersihkan barang-barang di loteng, tidak sengaja menemukan sebuah alat musik tua yang tiba-tiba bersuara, dengan itu dia tahu bahwa pernah ada pembunuhan yang terjadi dalam rumah. Pembunuhan yang menewaskan pemilik sebelumnya dan itu bukan berita baik. Tidak hanya itu saja, John juga bertemu dengan Elena (Nikki Hahn), anak gadis yang berusia kurang lebih sama dengan Victoria. Anak itu mengatakan bahwa John harus membakar semua barang-barang peninggalan sebelum terlambat, sebelum wanita jahat itu datang dan membunuh mereka satu persatu. Tanpa menunda lagi John segera membereskan semua dan membawa keluar dari rumah, meletakkan di halaman depan namun belum membakarnya.


Suatu malam, terjadilah puncak dari semuanya. Saat Izzy diam-diam menyelinap keluar, teror datang kepada ayah dan kedua adiknya. John baru menyadari ternyata Aiden dan Victoria secara diam-diam mengambil boneka dan kamera antik yang ada di dalam kotak. Keduanya memang sejak awal sudah terobsesi, walau dilarang tapi tidak berpengaruh. Kekuatan roh jahat menjadi semakin kuat, menculik dan mempengaruhi Aiden dan Victoria. Mereka memukuli John hingga tewas.

 

















Saat pulang dan mendapati ayahnya sekarat, Izzy menangis dan menyesal, namun sudah terlambat, John tidak tertolong lagi. Sebelum meninggal, sempat berpesan agar Izzy membakar semua barang-barang dalam kotak dan lainnya. Dengan segenap kekuatan dia melawan, berusaha keluar dari rumah dan melakukan perintah Sang Ayah. Kedua adiknya pun kembali sadar dan mereka masuk kembali ke dalam rumah, Izzy mencoba menelepon untuk meminta bantuan, namun terjadi sesuatu. Tiba-tiba sambungan terputus dan lampu rumah mati. Apa yang terjadi? Teror masih berlanjut, kematian untuk mereka semua, Madame menampakkan sosoknya. Cerita berakhir tragis dengan kematian semuanya.

 

Pada ending dimunculkan sebuah keluarga baru nan harmonis yang datang untuk membeli rumah. Kejadian yang sama akan terulang kembali, seakan rumah itu tidak pernah puas dengan para korbannya. Walau bergenre horor thriller, namun film ini ternyata tidak mendapatkan respon cukup baik dari para pengamat film. Saya juga merasa ceritanya tidak terlalu greget, hanya bikin jantungan saja saat Madame tiba-tiba muncul. Selebihnya biasa-biasa saja.


Untuk selanjutnya...Selamat menonton dan tentukan sendiri, terima kasih!







CART


CART ~ Kisah nyata perjuangan pekerja kontrak melawan Management Perusahaan




 
Film Korea bergenre Drama ini rilis tanggal 7 September 2014, kemudian hadir di Indonesia tanggal 13 November 2014. Berdurasi sekitar 1 jam 40 menit, di bawah arahan sutradara Boo Ji Young dan penulis script Kim Kyung Chan. Mendapat penghargaan Baeksang Art Awards untuk Skenario Film Terbaik dan Yum Jung Ah sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik.
 

Bagi yang tidak terlalu menyukai film bernuansa drama keluarga, mungkin ini bukan pilihan yang menarik. Saya juga bukan pecinta drama, lebih cenderung kepada horor, misteri, dan petualangan. Namun tidak ada salahnya menyimak karena cerita yang disajikan cukup inspirasional. Film ini sudah lama terbit, sudah dua tahun, tapi baru saya temukan di tahun 2016. Saat melihat sekilas memang tidak berminat, tapi setelah mengetahui bahwa ini diangkat dari kisah nyata, kemudian tergugah untuk menonton. Saya sangat menyukai film yang diangkat dari kisah nyata karena feelnya lebih dapat, lebih memotivasi untuk pembelajaran.
 

Bercerita tentang ketidak adilan yang diterima oleh para pekerja kontrak wanita di sebuah pusat perbelanjaan atau supermarket besar. Mereka diputus sepihak oleh perusahaan dengan alasan efisiensi. Tidak akan ada pengangkatan karyawan tetap, bahkan yang sudah mendapat promosi kenaikan pun dibatalkan, seperti yang dialami seorang ibu bernama Son Hee (Yum Jung Ah). Suami yang bekerja lama di laut membuatnya harus menghidupi dua anak sendirian, status karyawan tetap tentu saja sangat melegakan. Selain gaji yang didapat akan jauh lebih besar juga tidak harus khawatir setiap kali waktu perpanjangan kontrak. Dibutuhkan dedikasi tinggi dan tingkat kesalahan rendah dalam pekerjaan agar terpilih menjadi karyawan tetap. Ironis saat giliran promosi kenaikan Sun Hee, malah terjadi hal yang tidak diinginkan. Bahkan sudah berjanji dengan anak sulungnya yang bernama Tae Young (Do Kyungsoo-EXO) untuk membelikan sebuah HP baru. Padahal Son Hee sudah lima tahun menjadi karyawan teladan, namun seakan hal itu tidak berarti bagi perusahaan.
 




































 
Tae Young bersekolah di sekolah terbaik, berisi anak orang kaya. Hanya dirinya dan Soo Kyung (Ji Woo) yang merupakan anak biasa, bahkan dalam kelas, hanya mereka berdua yang memakai ponsel flip sedang lainnya lebih modern. Berbeda dengan Soo Kyung yang menerima statusnya, Tae Young malah bersikap malu. Saat makan siang di kantin sekolah, karena terlalu fokus bekerja Sun Hee lupa untuk membayar uang makan siang anaknya, akibatnya Tae Young malah berlari keluar dan memilih menyendiri di gudang. Soo Kyung menghampiri dam memberi sebuah roti, dengan marah berkata bahwa Tae Young bersikap sangat buruk, seharusnya dia tidak usah lari.
 















































 
Rekan kerja Sun Hee sesama kasir, Hye Min (Moon Jung Hee) juga sama kecewanya. Hye Min belum dijadikan karyawan tetap tapi perlakuan yang diterima sangat merendahkan diri. Dia ditegur karena dianggap menuduh seorang pelanggan mengutil, walau benar adanya, tapi pelanggan selalu benar bukan?! Dia disuruh meminta maaf dengan cara berlutut dan mendapat caci maki. Beberapa pekerja lain juga merasa mendapat perlakuan tak layak, mereka selalu memprioritaskan bekerja walau harus lembur tanpa dibayar sekali pun. Meninggalkan anak dan suami demi pekerjaan, namun malah PHK yang didapat. Mereka tentu saja punya pilihan untuk pergi, namun susahnya mencari kerja membuat tetap bertahan. Mereka pun melakukan mogok kerja dan menutup supermarket setelah usaha bernegosiasi dengan perusahaan gagal. Walau tidak ada yang mempedulikan nasib para wanita itu, masih ada seseorang yang berbaik hati. Berbeda dengan Kepala Bagian Choi (Lee Seung Joon) yang cuek, penjilat, mementingkan diri sendiri, sikap Dong Jun (Kim Kang Woo) lebih manusiawi. Dia miris melihat teman-teman sekerjanya mendapat perlakuan tidak adil. Malah akhirnya dialah yang mengetuai Serikat Buruh (persatuan pekerja yang di PHK)
 





































 
Selama berunjuk rasa, Son Hee terpaksa meninggalkan kedua anaknya. Bahkan Tae Young si sulung gagal ikut darmawisata yang diadakan pihak sekolah karena tidak mempunyai uang ditambah harus menjaga adiknya. Akhirnya memilih bekerja paruh waktu agar dapat memiliki uang untuk tetap pergi. Tentu saja dia bekerja tanpa sepengetahuan ibunya. Konflik ibu dan anak pun dimulai, walau tidak terasa kental. Seharusnya hal ini bisa lebih greget lagi, lebih dipertajam karena sebenarnya sudut pandang cerita akan jadi lebih luas dan menarik. Saat Tae Young mendapat perlakuan tidak adil dari paman pemilik tempatnya bekerja, tidak menerima gaji sesuai dengan kesepakatan, Son Hee maju membela hak anaknya. Sejak saat itulah cara pandang Tae Young diam-diam mulai berubah.
 


























































 
Puncak konflik adalah ketika anak Hye Min terluka dalam aksi pemukulan kepada para pengunjuk rasa. Sebagai orang tua tunggal, Hye Min harus membawa serta anaknya yang masih sangat kecil. Awalnya berjalan baik karena pihak perusahaan terlihat berniat untuk mengabulkan tuntutan, tapi ternyata tidak sepenuhnya, hanya beberapa dari mereka yang dapat kembali bekerja. Lagi-lagi terlihat keegoisan para pengusaha yang tidak ingin merugi, menganggap rendah para pekerja yang merelakan banting tulang hanya untuk memenuhi kepuasan harta mereka belaka. Benar-benar miris! 
 

Karena memiliki rasa kebersamaan yang tinggi, mereka tidak ingin mengecewakan teman-teman yang sudah ikut berjuang. Daripada cuma sebagian yang merasa senang, lebih memilih untuk bahagia bersama. Mereka ingin agar perusahaan benar-benar serius menyelesaikan, benar-benar bersikap adil atas nasib para karyawan. 
 

Kejadian pemukulan tidak disadari oleh para pengunjuk rasa. Perusahaan melakukan aksi kekerasan pada saat mereka sedang berkumpul di kemah dan membahas sesuatu. Pemukulan brutal tanpa hati dan pandang bulu, bahkan anak kecil pun menjadi korban. Beruntung anak Hye Min tidak meninggal, tapi cukup terluka parah. Karena merasa sakit hati dengan hinaan, kebohongan, dan ketidak pedulian perusahaan, Dong Jun menjadi gelap mata, melakukan pemukulan pada salah satu antek perusahaan. Ternyata sudah diatur sedemikian rupa, sudah direkayasa, sehingga cukup bukti untuk menjebloskan pemimpin serikat buruh itu ke penjara. 


Kepergian pemimpin menyebabkan para pengunjuk rasa tercerai berai, bahkan Hye Min menerima keputusan perusahaan yang timpang, dirinya kembali masuk bekerja. Anaknya membutuhkan biaya perawatan rumah sakit, menyebabkannya menjadi pengkhianat atas usaha keras teman-temannya. Padahal sejak awal dia yang mencetuskan ide serikat buruh bersama Madam Soon Rae (Kim Young Ae) dan yang lain mengikuti. Tapi ternyata malah dia lebih dulu meninggalkan semuanya. Tentu saja ada kekecewaan pada Son Hee, tapi dia bisa mengerti dengan keadaan, bagaimana pun dia adalah seorang ibu juga.


Diam-diam Son Hee mengumpulkan kembali para pengunjuk rasa untuk melanjutkan usaha mereka. Bagaimana pun semua tidak bisa berakhir begitu saja, mereka masih bisa berjuang. Dan dia tidak bertepuk sebelah tangan, semua memberi dukungan. Bagian ending yang menyentuh diakhiri dengan bentrok pengunjuk rasa dengan petugas. Bukan pertunjukan yang menarik karena itu sangat tidak menusiawi. Mereka hanya menuntut keadilan, tapi diperlakukan seperti pesakitan, bukan manusia. Mereka diperlakukan lebih buruk daripada koruptor yang merampok uang negara. Bahkan koruptor diperlakukan jauh lebih baik dari mereka. 
 





























































































 
Berharap dengan film ini sedikit mengajarkan kita pada sisi manusiawi kembali, mengajarkan rasa peduli terhadap sesama, mengajarkan moral lebih baik pada para pengusaha besar untuk menghargai karyawannya, pekerjanya...bukan hanya sebatas memanfaatkan tenaga mereka untuk kepentingan sendiri dan menumpuk harta. Setelah tidak membutuhkan lagi, malah membuang begitu saja seperti kotoran. Jika karyawanmu bekerja dengan baik dan loyal, perlakukanlah dengan baik juga karena mereka adalah manusia sepertimu.
 

Berharap juga dengan adanya adegan keluarga dalam film ini bisa menjadikan seorang anak lebih menghargai jerih payah ibu dan ayah dalam bekerja, lebih menghargai orang tua. Kaya miskin bukan ukuran, karena orang yang baik adalah mereka yang memandang dan menghargai kita apa adanya.
 
Semoga semua hal yang baik dan buruk dalam film Cart bisa bermanfaat! Selamat menikmati!



 






Kamis, 27 Oktober 2016

Drifters (Anime Baru Oktober 2016)


DRIFTERS : BATTLE IN A BRAND~NEW WORLD WAR





Anime Drifters diadaptasi dari komik karya mangaka Kouta Hirano. Selain Drifters, karya terkenal lainnya adalah Hellsing, jika anda penggemar komik jepang pasti tidak asing lagi. Episode pertama tayang 7 Oktober 2016, di bawah naungan Hoods Entertainment, NBC Universal Entertainment Japan, dan Shounen Gahousha. Drifters mendapat rating usia 17+, dikarenakan mengandung unsur kekerasan. Karya Kouta memang indentik dengan pemaparan cerita ekstrem, tapi tetap menarik untuk dilihat. Tergantung pemilahan bijak penonton. Genre anime ini adalah advanture, action, comedy, fantasy, historical (banyak amat). Advanture karena memang bercerita tentang petualangan ke dunia asing. Action karena bertebaran adegan perkelahian dan perang secara gratis. Comedy...seperti biasa, anime jepang selalu tak luput dari yang namanya kelucuan di tengah konflik. Fantasy...bener cerita ini hanya fantasi, bukan kisah nyata. Historical karena para karakternya adalah tokoh nyata di dunia, bahkan terkenal dalam sejarah dunia, contohnya seperti...Saya (keplak). Ada Oda Nobunaga, Hijikata Toshizo, Jeanne d'Arc, Rasputin, Hitler, dan lainnya lagi. 

Anime yang telah terbit 3 episode dari tanggal perdananya ini diproduseri oleh Ueda Yasuyuki dan dibawah arahan director Suzuki Kenichi. Script dikerjakan oleh Kuroda Yousuku dan sound director dipercayakan kepada Tsuruoka Yota. Opening theme berjudul Gospel of The Throttle dari Minutes Til Midnight sangat keren sebagai pembuka. Ditutup lagu Vermillion dari Maon Kurosaki sebagai ending theme.

Cerita berfokus pada pertempuran pasukan Drifters melawan pasukan End. Para prajurit berasal dari  tokoh-tokoh sejarah yang sesaat sebelum kematian, mereka dibawa ke sebuah dunia yang dipenuhi dengan Elf, Dwarf, Orc, Naga, dan lainnya. Drifters adalah prajurit tempur yang tidak memiliki kemampuan sihir, menggunakan keahlian dan keuletan sendiri untuk bertahan hidup, tidak bersifat kejam dan tidak mentolerir menyakiti orang tak berdosa. Sedang Ends adalah kebalikannya, bersifat kejam dan tidak kenal ampun. Para prajurit Ends adalah mereka yang meninggal dalam keadaan tidak lazim, pengkhiatan, kebencian, dan kekerasan. Sehingga mereka lebih memilih meninggalkan sisi kemanusiaan, menggunakan sihir sebagai balas dendam. Sementara itu, Oktobrist Organization, sekelompok penyihir manusia berusaha untuk menyatukan Drifters individu untuk menyelamatkan dunia mereka dari tangan Ends. Bisa dikatakan Oktobrist adalah pendukung Drifters.

Bermula dari setting pertempuran Sekigahara. Muncul pemeran utama Himazu Toyohisa yang saat itu merupakan samurai terkuat. Setelah pasukan musuh dapat dipukul mundur, Toyohisa yang sekarat berjalan pulang kembali, hanya dirinya yang selamat. Saat berjalan di lapangan terbuka, tiba-tiba bertemu seorang pria berkaca mata di sebuah tempat asing. Tanpa berkata apa-apa, pria itu mengirim Toyohisa ke pintu terdekat, dimana dia akan bangun di dunia lain sebagai Drifters. Dirinya ditemukan oleh kaum Elf bernama Masha dan Mark yang kemudian dibawa kepada Nobunaga dan Yoichi. Itu adalah awal pertemuan ketiganya sebagai pemeran utama. Walau sempat heboh, namun mereka bisa akur juga. Meskipun impulsif dan sembrono, Toyohisa memiliki semangat tak kenal takut, bahkan membebaskan para Elf dari kekaisaran Orte yang menjajah.




















































Tokoh Drifters :

1. Murasaki
Pria berkaca mata yang bertanggung jawab untuk perekrutan prajurit Drifters. Menggunakan mereka sebagai sarana penaklukan Ends. Duduk ditengah pintu koridor, merokok, dan membaca koran...tapi bukan koran sembarangan. Koran yang berisi informasi mengenai peristiwa yang berkaitan dengan para Drifters. Tidak begitu banyak informasi tentang pria ini, cukup misterius. Voice actor Murasaki diisi oleh Mitsuru Miyamoto.


2. Shimazu Toyohisa
Pemimpin Drifters, secara historis meninggal tahun 1600 selama pertempuran Sekigahara. Memiliki insting yang tajam untuk pertempuran dan taktik, walau yang bersangkutan tidak pernah menyadari. Mengunakan sebuah pedang panjang dan pedang pendek, serta sebuah senjata dikala kedua pedang tidak dapat digunakan. Yuichi Nakamura sebagai voice actor tokoh protagonis ini.























3. Oda Nobunaga
Seorang Panglima Perang terkenal yang menaklukkan sebagian besar Jepang selama masa Sengoku. Seorang Daimyo yang mengambil langkah pertama dari penyatuan Jepang. Komandan Militer yang pertama kali menggunakan Senjata Kopak (Arquebus) dalam peperangan. Sebagai Drifters dia juga menggunakan jenis senjata yang sama sebagai andalan. Secara historis meninggal dua puluh tahun sebelum Toyohisa (1582). Nobunaga sangat ambisius dan licik, ingin mendirikan sebuah multiras di dunia baru dengan Toyohisa sebagai pemimpin. Bertindak sebagai kelompok strategi militer. Voice actor diisi oleh Naoya Uchida.


4. Nasu Suketaka Yoichi
Digambarkan sebagai pria berwajah cantik dengan rambut panjang, berusia sembilan belas tahun, termuda dalam kelompok. Hidup ratusan tahun sebelum Nobunaga dan Toyohisa, diindikasi sekitar 1189 atau 1190. Lahir sebagai anak bungsu dari sebelas bersaudara. Pejuang yang kuat dan menjadi komandan militer yang bertugas selama Perang Genpei. Keahliannya adalah memanah. Voice actor diisi oleh Mitsuki Saiga.


5. Hannibal Barca
Teman berdebat Scipio Africanus, seorang komandan militer yang hebat dalam mengartikulasi taktik pertempuran untuk sesama Drifters.Digambarkan sebagai seorang pria tua yang pikun, bahkan pada kemunculan di episode tiga, Hannibal sampai buang air kecil di celana karena tidak dapat menahan. Yutaka Aoyama pengisi suara untuk karakter ini.


6. Scipio Africanus
Musuh Hannibal selama masa Perang Punisia Kedua, memperoleh kemenangannya di Zama. Tapi sebagai Drifters mereka malah berteman walau masih sering cekcok. Digambarkan sebagai sosok pria tua sama seperti rivalnya. Kemunculan pertama bersama dengan Hannibal dan geng liar Bunch, tapi kemudian berpisah, Scipio bergabung bersama Naoshi Kanno dan Tamon Yamaguchi. Sebagai voice actornya adalah Hiroshi Yanaka.


7. Butch Cassidy
Pemimpin Geng liar Bunch. Bersama dengan Sundance Kid, diangkut dari Bolivia, menjadi Drifters untuk berperang melawan Black King dan pasukannya Ends. Keahlian adalah senjata api, terutama sepasang pistol. Muncul pada episode ketiga saat penyelamatan Hannibal dan Scipio. Voice aktornya  ialah Daisuke Ono.


8. Sundance Kid
Seperti pemimpinnya, Kid menggunakan senjata api dalam pertempuran. Pertama muncul memakai senjata Gatling. Menembaki para tentara Ends untuk misi penyelamatan. Wataru Takagi adalah voice actor yang mengisi karakter perlente ini.


9. Naoshi Kanno
Pada saat para Drifters diserang Naga, Naoshi muncul bersama dengan pesawat tempurnya. Ternyata dia diangkut ke dunia asing bersama dengan kendaraan kesayangannya. Sebagai pilot pesawat tempur masa Perang Dunia II, serangan Naga mengingatkannya pada saat pengeboman Tokyo oleh tentara AS. Bersama dengan Scipio mempunyai misi untuk menyatukan berbagai suku hewan antropomorfik agar dapat memperkuat tentara Drifters. Awalnya tidak percaya kepada Butch dan Kid karena mereka adalah Amerika. Tapi akhirnya Butch berhasil meyakinkan dengan mengatakan bahwa mereka dari Bolivia. Voice actor pengisi suara Naoshi adalah Tatsuhisa Suzuki.




















 
10. Tamon Yamaguchi
Laksamana Angkatan Laut Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II. Sama seperti Naoshi, Tamon muncul dengan membawa kendaraan kesayangannya, Hiryu. Voice actor untuk Tamon adalah Yutaka Nakano.



Tokoh Ends

1. Easy
Seorang wanita muda dengan mata panjang dan berambut hitam ungu. Rupanya sangat bertentangan dengan Murasaki. Bisa dikatakan Murasaki adalah cahaya, sedang Easy adalah kebalikannya. Sosok yang bertanggung jawab pada Ends. Menggunakan laptop sebagai sarana informasi dan penghubung untuk mengawasi pertempuran di dunia lain. Suara diisi oleh Kanae Ito.


2. Black King
Pemimpin Ends. Identitas belum ditemukan, namun memiliki kekuatan penyembuh dan kemampuan berkembang biak menjadi bentuk kehidupan yang dia inginkan. Tujuan utama adalah memberantas semua manusia dan menciptakan sebuah peradaban baru non-manusia dalam Dark Age abadi. Dalam rangka mencapai tujuan, Black King menginstruksikan Rasputin untuk membuat alfabet sederhana dan sinkretis agama, memungkinkan ras non manusia yang berbeda untuk menemukan kesamaan. Voice actor diisi oleh Taiten Kusunoki.


3. Hijikata Toshizo
Mantan wakil komandan Shinsengumi yang meninggal dalam pertempuran selama Perang Boshin. Memiliki kemampuan menggunakan asap untuk mewujudkan/merealisasi gambar hantu dari anggota Shinsengumi dan menggunakannya untuk memotong terpisah musuh-musuhnya. Merupakan saingan Toyohisa, saat bertarung keduanya berakhir imbang. Voice actor adalah Hiroki Yasumoto.


4. Jeanne d'Arc
Tokoh dari Perang Seratus Tahun antara Perancis dan Inggris. Mendapati kematian dengan dibakar hidup-hidup. Memiliki kemampuan memanipulasi api. Digambarkan sebagai sosok psyco dan tidak feminim. Jeanne dikalahkan oleh Toyohisa dalam pertempuran, namun mampu melarikan diri karena sumpah pribadi Toyohisa untuk tidak pernah membunuh seorang wanita. Memiliki ambisi membalas dendam pada Toyohisa. Voice actor untuk Jeanne adalah Junko Minagawa.


5. Gilles de Rais
Seorang bangsawan Perancis yang pernah menjadi salah satu sahabat seperjuangan Jeanne, namun kemudian dieksekusi karena beberapa kasus dugaan pembunuhan. Memiliki kekuatan luar biasa dan daya tahan. Terus menemani Jeanne dalam pertempuran sebagai spearman, bahkan tetap setia sampai kematian. Dikalahkan oleh Butch dan Kid, mengakibatkan Jeanne bersumpah untuk membalasnya. Gilles adalah prajurit Ends yang pertama kali dibunuh. Kenji Nomura pengisi voice actor Gilles.


6. Anastasia Nikolaevna Romanova
Putri bungsu dari Nicholas II Rusia. Historis menceritakan Anastasia beserta keluarga ditembak oleh regu tembak Bolshevik  ketika berusia tujuh belas tahun. Memiliki kemampuan supranatural untuk membuat badai salju. Digambarkan sebagai wanita yang memiliki sedikit ekspresi dan minat pada perang antara Drifters dan Ends. Voice actornya adalah Junko Kitanishi.


7. Grigori Rasputin.
Sebuah tokoh mistik Rusia terkenal yang pernah memegang pengaruh besar Imperial Court Rusia. Melayani Black King sebagai kepala mata-mata untuk pasukannya, sering terlihat di sisi Anastasia. Pengisi suara Rasputin adalah Masahiko Tanaka.


Selain Ends, yang menjadi musuh Drifters adalah mereka yang tergabung dalam kekaisaran Orte. Jika Octobrist Organization mendukung Drifters, berbeda dengan Orte. Bahkan Orte tak segan melakukan kekerasan dalam bertindak, sangat bertolak belakang dengan prinsip Drifters.

Jika masih penasaran, daripada diempet, ikuti saja langsung animenya!! Dijamin tidak menyesal!! Selamat menikmati cerita lebih jauh dan menantang!!










NEW DIVIDE ~ LINKIN PARK I remembered black skies The lightning all around me I remembered each flash As time began to blur Like a startling...